Di tengah kesibukan Jalan Perdagangan yang dahulu pada masa kolonial disebut sebagai Handelstraat, berdiri sebuah bangunan yang menjadi saksi transformasi ekonomi kolonial Eropa di ujung barat Nusantara. Gedung yang kini dikenal luas sebagai Kantor Cabang Bank Mandiri Sabang ini memiliki peran yang jauh melampaui fungsi perbankan modern yang dijalankannya saat ini. Jika bangunan di kawasan Kuta Ateuh merepresentasikan wajah kekuasaan politik dan kenyamanan para pejabat, maka gedung ini adalah representasi efisiensi birokrasi, dan perputaran modal yang menjadi nyawa bagi pelabuhan bebas Sabang.

Sebagai kantor pusat operasional dari N.V. Zeehaven en Kolenstation Sabang te Batavia atau Sabang Maatschappij, gedung ini berfungsi sebagai ruang kendali bagi seluruh aktivitas pelabuhan. Posisinya yang strategis di Benedenstad atau Kota Bawah menempatkannya tepat di jantung zona komersial, berhadapan langsung dengan dermaga tempat kapal-kapal uap lintas benua bersandar. Keberadaan bangunan ini adalah bagian dari ambisi besar pemerintah kolonial Belanda untuk menciptakan sebuah entitas maritim yang mampu menyaingi dominasi Inggris di Singapura dan Pulau Pinang.

Pendirian bangunan ini beriringan dengan momen krusial pada tahun 1899 ketika konsorsium Factorij van de Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) menyuntikkan modal besar untuk mengubah wajah Sabang dari sekadar stasiun pengisian bahan bakar menjadi pelabuhan internasional yang modern.

Struktur bangunan seluas 361 meter persegi ini dibangun dengan spesifikasi material terbaik. Dinding bata menggunakan semen berkualitas tinggi, dengan dinding yang tebal yang memiliki fungsi sebagai peredam suhu panas dan kebisingan. Hal ini sangat penting mengingat lokasi gedung yang berada di pusat kebisingan pelabuhan dan juga pusatperdagangan Kota Bawah.

Peran gedung ini sangat sentral dalam ekosistem pelabuhan. Di sinilah jadwal kedatangan dan keberangkatan kapal-kapal dari maskapai pelayaran raksasa dunia seperti Stoomvaart Maatschappij Nederland (SMN) dan Rotterdamsche Lloyd diatur. Para pegawai di gedung ini juga mengelola stok batu bara Ombilin dari Sumatera Barat yang disimpan di gudang-gudang pelabuhan. Selain fungsi teknis, gedung ini juga memiliki dimensi finansial yang kuat. Afiliasi Sabang Maatschappij dengan NHM, salah satu institusi keuangan terbesar dalam sejarah Belanda, menjadikan gedung ini juga berfungsi seperti bank dagang. Transaksi pembayaran biaya pelabuhan, penukaran mata uang asing (wissel), hingga penerbitan surat kredit (Letter of Credit).

Kesuksesan operasional yang telah berlangsung selama setengah abad terhenti secara mendadak ketika Perang Pasifik meletus. Invasi tentara Kekaisaran Jepang ke Hindia Belanda pada awal tahun 1942 mengubah total fungsi dan atmosfer kawasan Kota Bawah. Ketika pasukan Jepang menguasai Pulau Weh, seluruh aset strategis milik Sabang Maatschappij disita dan dialihkan untuk mendukung upaya perang Asia Timur Raya. Gedung kantor operasional ini, dengan fasilitas telekomunikasi dan letaknya yang strategis, diambil alih oleh Angkatan Laut Jepang atau Kaigun. Selama masa pendudukan, fungsi komersial gedung ini dimatikan. Ruang-ruang kerja yang sebelumnya sibuk dengan urusan laba rugi korporasi berubah menjadi pusat administrasi logistik militer.

Setelah perang berakhir dan proklamasi kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, gedung ini memasuki fase transisi. Titik balik sejarah gedung ini terjadi pada akhir dekade 1950-an. Memanasnya hubungan diplomatik antara Indonesia dan Belanda terkait sengketa Irian Barat memicu gelombang nasionalisasi aset-aset Belanda di seluruh Indonesia. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 86 Tahun 1958, pemerintah Indonesia mengambil alih seluruh aset milik perusahaan Belanda, termasuk Sabang Maatschappij.

Pasca-nasionalisasi, aset-aset keuangan dan properti yang sebelumnya dikelola oleh NHM dan afiliasinya diintegrasikan ke dalam struktur perbankan milik negara. Mengingat sejarah panjang gedung ini yang lekat dengan aktivitas keuangan dan perdagangan, pemerintah memutuskan untuk mempertahankan fungsinya sebagai kantor layanan perbankan. Awalnya, gedung ini menjadi bagian dari operasional Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim). Fokus bank ini pada pembiayaan perdagangan internasional sangat relevan dengan upaya pemerintah saat itu untuk menghidupkan kembali status Sabang sebagai pelabuhan bebas.

Pada era 1970-an hingga awal 1980-an, ketika Sabang menikmati masa keemasan kedua sebagai pusat barang impor, gedung ini kembali menjadi pusat kesibukan ekonomi. Para pedagang yang mendatangkan tekstil, elektronik, dan kendaraan bermotor dari luar negeri memadati loket-loket bank untuk melakukan transaksi valuta asing dan fasilitas kredit. Namun, kebijakan penutupan pelabuhan bebas pada tahun 1985 demi memajukan Batam, sempat meredupkan aktivitas ekonomi di kawasan Handelstraat.

Perubahan signifikan kembali terjadi setelah krisis moneter 1998, ketika pemerintah melakukan restrukturisasi besar-besaran di sektor perbankan. Empat bank milik negara, yaitu Bank Dagang Negara, Bank Bumi Daya, Bank Exim, dan Bapindo, dilebur menjadi satu entitas baru bernama Bank Mandiri pada Juli 1999. Secara otomatis, gedung bersejarah ini beralih status menjadi aset dan kantor cabang Bank Mandiri.

Saat ini, Gedung Bank Mandiri Sabang berdiri sebagai contoh keberhasilan pemanfaatan kembali bangunan bersejarah yang tetap relevan dengan kebutuhan zaman. Secara visual, ia masih mempertahankan karakter kolonialnya yang kuat melalui jendela-jendela jangkung yang masih berfungsi dan dinding tebal yang kokoh. Pemerintah Kota Sabang pun telah menetapkan bangunan ini sebagai Cagar Budaya, memastikan bahwa warisan arsitektur ini akan terus terlindungi dan berfungsi, menjaga nyawa sejarah tetap hidup di tepi dermaga yang legendaris.