Di kawasan dataran tinggi Gampong Kuta Ateuh berdiri sebuah bangunan yang memancarkan aura kekuasaan dominan. Struktur arsitektural yang populer dikenal luas sebagai Mess Pamen Samudera ini bukan sekadar bangunan tua, melainkan sebuah monumen yang merekam jejak puncak ambisi ekonomi kolonial Belanda di Selat Malaka pada pergantian abad ke-19 menuju abad ke-20. Didirikan pada tahun 1899, gedung ini dirancang sejak awal sebagai kediaman resmi (woning) bagi Administrateur, pejabat eksekutif tertinggi dari N.V. Zeehaven en Kolenstation Sabang te Batavia atau yang lebih populer dikenal sebagai Sabang Maatschappij. Sebagai pusat kendali dari sebuah imperium logistik, bangunan ini menjadi saksi bisu transformasi Pulau Weh dari sebuah stasiun batu bara (Kolen Station) sederhana menjadi salah satu pelabuhan bebas (Vrijhaven) paling strategis di Asia Tenggara.

Keberadaannya di puncak bukit bukan tanpa alasan. Dalam imaji kolonial yang sangat sadar akan hierarki sosial dan rasial, posisi geografis ini adalah pernyataan status politik yang nyata. Sang Administrateur, sebagai representasi kekuasaan korporasi yang nyaris absolut di pulau ini, ditempatkan di lokasi yang dapat “mengawasi” segala aktivitas di bawahnya. Dari beranda rumahnya yang menghadap ke laut lepas, ia dapat laluasai melihat ke arah Teluk Sabang, memantau pergerakan kapal-kapal uap dari seluruh dunia yang singgah untuk mengisi bahan bakar.

Pembangunan kediaman Administrateur pada tahun 1899 menandai fase kemapanan Sabang Maatschappij sebagai penguasa de facto Pulau Weh. Pada masa itu, pemerintah Hindia Belanda bersama dengan dukungan modal swasta dari Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM) sedang berupaya keras menyaingi dominasi Inggris di Singapura dan Pulau Pinang. Untuk menarik para profesional Eropa, insinyur, dan administrator agar bersedia tinggal dan bekerja di pulau ini, standar kehidupan yang tinggi harus diciptakan. Oleh karena itu, rumah ini dibangun dengan mengadopsi gaya arsitektur Indische Woonhuizen atau rumah gaya Hindia yang telah disempurnakan. Gaya ini merupakan respons terhadap iklim tropis basah, meninggalkan desain arsitektur Belanda di Eropa yang tertutup rapat demi sirkulasi udara yang maksimal.

Secara fisik, bangunan ini menampilkan karakteristik yang megah dengan fondasi batu yang masif dan dinding beton tebal. Ketebalan dinding ini bukan hanya dirancang untuk kekokohan struktural menghadapi potensi gempa atau angin kencang, melainkan berfungsi sebagai pengenali suhu yang efektif. Material dinding mampu menyerap panas matahari di siang hari dan melepaskannya secara perlahan saat malam, sehingga menjaga suhu dalam bangunan tetap sejuk tanpa bantuan teknologi pendingin udara modern. Langit-langit ruangan dibuat tinggi, mencapai lebih dari empat meter, untuk memberikan volume ruang yang besar bagi udara panas agar naik ke atas dan terbuang melalui lubang ventilasi yang ditempatkan di atas kusen pintu dan jendela yang lebar.

Sebagai kediaman pejabat tertinggi perusahaan yang memonopoli hajat hidup di Pulau Weh, rumah ini juga berfungsi sebagai pusat aktivitas sosial kaum elit Eropa di Sabang. Pada masa jayanya, halaman luas yang mengelilingi bangunan ini kerap menjadi lokasi pesta kebun (tuinfeest) yang meriah pada akhir pekan. Kehidupan di dalam rumah ini mencerminkan sebuah “Eropa kecil” yang terisolasi, lengkap dengan pelayan domestik pribumi yang melayani segala kebutuhan penghuninya. Namun, di balik kemewahan tersebut, rumah ini sejatinya juga merupakan pusat pengambilan keputusan strategis. Di ruang kerja pribadinya, Administrateur menentukan kebijakan operasional pelabuhan, mengatur rotasi kerja ribuan kuli kontrak, dan menegosiasikan harga batu bara serta jasa perbaikan kapal. Otoritas yang dimilikinya di Sabang sangat besar, bahkan sering kali bersinggungan atau melampaui wewenang Controleur yang mewakili negara, mengingat Sabang pada dasarnya beroperasi layaknya sebuah company town di mana perusahaan memegang kendali atas infrastruktur vital seperti listrik, air bersih, dan perumahan.

Stabilitas, ketertiban, dan kemewahan yang dinikmati oleh penghuni Rumah Administrateur terhenti seketika dengan pecahnya Perang Dunia II di kawasan Asia Pasifik. Invasi tentara Kekaisaran Jepang ke Hindia Belanda pada Maret 1942 mengubah wajah Sabang secara permanen. Posisi Sabang sebagai gerbang barat Nusantara yang sangat strategis membuat kota ini menjadi target utama dalam ekspansi militer Jepang. Segera setelah pendudukan, fungsi sipil dan komersial dari bangunan ini dihentikan total. Identitasnya sebagai simbol kapitalisme dihapus dan digantikan oleh fungsi militer yang penuh kewaspadaan. Angkatan Laut Kekaisaran Jepang (Kaigun) mengambil alih seluruh aset Sabang Maatschappij, dan Rumah Administrateur dipilih menjadi markas komando strategis karena konstruksinya yang kuat dan lokasinya yang terlindung di atas ketinggian bukit.

Selama periode pendudukan yang singkat (1942–1945), bangunan ini menjadi bagian integral dari infrastruktur Pasukan Pangkalan Angkatan Laut ke-9 (9th Naval Base Force atau Tokubetsu Konkyochitai) yang bermarkas di wilayah ini. Sabang diubah menjadi benteng pertahanan terdepan untuk memblokade akses Sekutu ke Selat Malaka. Rumah yang dulunya terbuka, kini dikelilingi oleh instalasi pertahanan militer. Jepang membangun jaringan bunker beton, parit perlindungan, dan terowongan logistik bawah tanah di sekitar kawasan Kuta Ateuh untuk mengantisipasi serangan udara musuh.

Ketahanan fisik bangunan ini benar-benar diuji pada tahun 1944, ketika Sekutu melancarkan serangan balasan besar-besaran untuk melumpuhkan kekuatan Jepang di Asia Tenggara. Dua operasi angkatan laut utama yang tercatat dalam sejarah, yakni Operation Cockpit pada bulan April dan Operation Transom pada bulan Mei, serta kemudian serangan artileri laut Operation Crimson, menargetkan fasilitas militer di Sabang. Pesawat-pesawat tempur yang lepas landas dari kapal induk HMS Illustrious milik Inggris dan USS Saratoga milik Amerika Serikat membombardir pelabuhan, tangki minyak, dan fasilitas bengkel kapal di Kota Bawah hingga hancur lebur.

Faktor keselamatan bangunan ini kemungkinan besar disebabkan oleh lokasinya yang agak terpisah dari target utama infrastruktur logistik di tepi pantai, serta perlindungan alami dari pepohonan besar di sekitarnya yang menyamarkan visual dari pengamatan udara.

Pasca kekalahan Jepang pada Agustus 1945 dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Sabang memasuki masa vakum kekuasaan dan transisi politik. Antara tahun 1945 hingga 1949, Belanda yang kembali dengan membonceng pasukan Sekutu melalui NICA berupaya merestorasi kekuasaannya dan menghidupkan kembali operasional Sabang Maatschappij. Manajemen perusahaan yang kembali berusaha mengklaim kembali aset-aset properti mereka, termasuk rumah dinas ini, dengan harapan dapat mengembalikan kejayaan operasional pelabuhan seperti sediakala.

Kepastian status hukum bangunan ini baru tercapai secara definitif setelah Konferensi Meja Bundar (KMB) dan pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada tahun 1950, pemerintah RIS mengambil langkah strategis untuk mengamankan kedaulatan maritim di wilayah barat nusantara. Melalui Keputusan Menteri Pertahanan RIS Nomor 9/MP/50, Sabang ditetapkan sebagai Basis Pertahanan Angkatan Laut. Keputusan ini memiliki implikasi hukum dan aset yang sangat luas: seluruh aset strategis yang sebelumnya dikuasai oleh entitas kolonial dan swasta asing, termasuk pelabuhan, bengkel, gudang, dan perumahan dinas, dinasionalisasi untuk kepentingan pertahanan negara. Proses likuidasi Sabang Maatschappij pun dimulai, dan kepemilikan Rumah Administrateur secara resmi beralih ke tangan pemerintah Indonesia, khususnya Angkatan Laut.

Sejak saat itu, bangunan bersejarah ini menjalani peran barunya sebagai fasilitas penunjang vital bagi Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL). Nama “Mess Pamen Samudera” disematkan pada gedung ini, menegaskan fungsinya sebagai wisma atau asrama bagi Perwira Menengah (Pamen) mulai jenjang kepangkatan dari Mayor, Letnan Kolonel, hingga Kolonel yang bertugas di Pangkalan TNI AL (Lanal) Sabang. Meskipun fungsinya berubah menjadi asrama militer, TNI AL mempertahankan arsitektur aslinya dengan sangat baik dan penuh rasa hormat terhadap sejarah.

Sebagai institusi yang memiliki tradisi disiplin tinggi, TNI AL melakukan perawatan rutin yang menjaga kondisi fisik bangunan tetap baik, di saat banyak bangunan tua lain di Sabang runtuh akibat penelantaran setelah status pelabuhan bebas dicabut pada tahun 1985 dan ekonomi kota merosot tajam. Saat ini, Mess Pamen Samudera berdiri sebagai salah satu bangunan cagar budaya terawat di Sabang. Pemerintah Kota Sabang telah menginventarisasi bangunan ini sebagai objek cagar budaya yang dilindungi undang-undang, sehingga keberadaannya kini bukan hanya sebagai aset militer fungsional, tetapi juga aset sejarah dan sarana edukasi publik.