Dalam struktur ekonomi pelabuhan bebas Sabang pada paruh pertama abad ke-20, terdapat pembagian kerja yang jelas antara infrastruktur “keras” dan “lunak”. Jika Sabang Maatschappij memonopoli penyediaan infrastruktur keras seperti dermaga, dok apung, dan gudang batu bara, maka sektor infrastruktur lunak yang mencakup logistik awak kapal, penyediaan bahan pangan, pengurusan dokumen pabean, dan perantara dagang didominasi oleh sektor swasta yang lebih fleksibel. Di sinilah Gedung Tikeng Hwi, yang terletak di koridor vital Jalan Perdagangan (Handelstraat), memainkan peran sentralnya. Bangunan ini bukan sekadar rumah toko biasa, melainkan lokasi operasional dari sebuah firma agensi pelayaran yang menjadi simpul penghubung antara birokrasi kolonial yang kaku dengan dinamika pragmatis perdagangan maritim internasional.
Keberadaan Gedung Tikeng Hwi merepresentasikan posisi strategis komunitas Tionghoa dalam stratifikasi sosial dan ekonomi Hindia Belanda sebagai Vreemde Oosterlingen (Timur Asing). Mereka berfungsi sebagai “perantara” (essential middlemen) yang menjembatani kepentingan kapital Eropa dengan pasar lokal dan jaringan tenaga kerja Asia. Melalui aktivitas yang berlangsung di gedung ini, Sabang terintegrasi ke dalam jaringan logistik global yang lebih luas, memastikan bahwa kebutuhan ribuan kapal yang singgah setiap tahunnya dapat terpenuhi dengan kecepatan dan efisiensi yang menyaingi pelabuhan Singapura.
Secara desain, Gedung Tikeng Hwi menampilkan karakter arsitektur yang unik, menandai transisi dari gaya rumah toko (shophouse) ke gaya perkantoran modern awal abad ke-20. Berbeda dengan ruko-ruko Tionghoa standar di kawasan Pecinan yang umumnya sempit, memanjang ke belakang, dan memiliki atap pelana kuda yang melengkung, Gedung Tikeng Hwi dirancang dengan tampilan lebih lebar dan lebih formal, mencerminkan fungsinya sebagai kantor agen pelayaran internasional yang melayani klien-klien Eropa.
Gaya arsitektur bangunan ini dapat diklasifikasikan ke dalam langgam Vroeg Indisch Modern atau Modern Indische Awal. Karakteristik utamanya terlihat pada respons desain terhadap iklim tropis basah Sabang. Arsitek dan kontraktor yang membangun bangunan ini menerapkan prinsip kenyamanan akan suhu dengan yang terindikasi dari ketinggian langit-langit (plafond) lantai dasar yang mencapai 4 hingga 5 meter.
Sistem ventilasi bangunan ini dirancang untuk bekerja secara optimal. Bukaan-bukaan jendela yang besar dan tinggi di lantai dua, yang dilengkapi dengan daun jendela ganda, memungkinkan penghuni untuk mengatur intensitas cahaya dan aliran udara sesuai kondisi cuaca.
Lantai dua gedung memiliki fungsi yang lebih privat namun strategis. Dalam tradisi keluarga Tionghoa di Asia Tenggara, lantai atas sering kali difungsikan sebagai hunian pemilik atau asrama bagi manajer senior yang didatangkan dari Tiongkok atau kota lain. Namun, mengingat skala operasi Tikeng Hwi sebagai agen pelayaran, lantai dua ini kemungkinan besar juga difungsikan sebagai ruang kantor. Keberadaan balkon yang menghadap langsung ke Jalan Perdagangan dan area pelabuhan memberikan keuntungan visual. Dari balkon ini, pemilik firma dapat memantau secara langsung aktivitas bongkar muat di dermaga, mengamati cuaca, dan melihat kedatangan kapal-kapal klien mereka yang baru bersandar.
Operasional yang dijalankan di dalam Gedung Tikeng Hwi adalah miniatur dari kompleksitas sistem perdagangan pelabuhan bebas. Sebagai agen pelayaran dan penyedia logistik (ship chandler), Tikeng Hwi beroperasi dalam ritme yang mengikuti jadwal kapal, sering kali menuntut layanan 24 jam. Sabang harus bersaing ketat dengan Singapura dalam hal kecepatan layanan, dan sinilah peran krusial firma seperti Tikeng Hwi.
Begitu sebuah kapal terlihat atau telegraf kedatangannya diterima, mesin birokrasi di Gedung Tikeng Hwi mulai bekerja. Para staf segera menyiapkan dokumen pabean yang diperlukan oleh otoritas pelabuhan (Havenmeester) dan bea cukai. Mereka mengoordinasikan pengiriman bahan makanan dan air minum ke kapal. Kemampuan untuk menyediakan logistik dalam jumlah besar dan kualitas baik dalam waktu singkat adalah kunci reputasi sebuah agen pelayaran.
Selain logistik fisik, gedung ini juga berfungsi sebagai pusat transaksi finansial yang vital. Mengingat sistem perbankan kolonial sering kali kaku dan memiliki jam operasional terbatas, agen pelayaran swasta sering bertindak sebagai bankir bagi para kapten kapal. Mereka menyediakan layanan penukaran mata uang (money changer), memberikan pinjaman tunai untuk kebutuhan awak kapal yang sedang pesiar di darat, dan memfasilitasi pembayaran gaji buruh bongkar muat.
Komoditas ekspor unggulan Aceh, seperti lada, kopra, dan pinang, juga menjadi bagian dari portofolio bisnis yang dikelola dari gedung ini. Tikeng Hwi bertindak sebagai pengumpul yang membeli hasil bumi dari pedagang-pedagang kecil di pesisir Sumatera dan Aceh daratan, menyimpannya di gudang-gudang transit, untuk kemudian dimuat ke kapal-kapal kargo asing yang menuju Eropa atau Amerika. Dalam peran ini, Tikeng Hwi menjadi jembatan penghubung antara ekonomi agraris pedalaman (hinterland) dengan pasar komoditas global.
Runtuhnya kekuasaan Hindia Belanda membawa disrupsi besar pada jaringan bisnis yang berpusat di Gedung Tikeng Hwi. Perdagangan internasional terhenti, digantikan oleh sistem ekonomi perang yang terpusat dan dikontrol ketat oleh militer Jepang.
Pasca-kemerdekaan Indonesia, Gedung Tikeng Hwi sempat menikmati angin segar ketika Sabang ditetapkan kembali sebagai pelabuhan bebas pada tahun 1963 dan kemudian diperkuat pada tahun 1970. Pada era ini, Jalan Perdagangan kembali hidup dengan masuknya barang-barang impor mewah. Gedung-gedung tua di kawasan ini kembali berfungsi sebagai toko dan gudang bagi barang-barang elektronik, tekstil, dan otomotif yang didatangkan dari Singapura dan Hong Kong. Namun, struktur bisnisnya telah berubah; agen pelayaran raksasa masa kolonial telah pergi, digantikan oleh model perdagangan lintas batas yang lebih fragmentaris, dimana jika sebelumnya gedung ini adalah bagian dari infrastruktur yang berusaha menyaingi Singapura, dan kemudian berubah menjadi bagian subordinat dari bisnis-bisnis yang menginduk ke Singapura.
