Di kawasan Kuta Ateuh, tepat di seberang bangunan yang kini difungsikan sebagai Museum Sabang, berdiri sebuah kompleks bangunan tua kini dikenal sebagai Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Sabang. Didirikan pada tahun 1909 sebagai Europeesche Lagere School (ELS), institusi ini bukan sekadar sekolah biasa, melainkan sebuah instrumen kultural yang dirancang untuk menjaga “kemurnian” identitas Eropa di tanah jajahan.
Keberadaan sekolah ini menunjukkan bahwa Sabang pada awal abad ke-20 bukan lagi sekadar pos transit batu bara, melainkan telah bertransformasi menjadi sebuah permukiman permanen (settlement) yang mapan, lengkap dengan struktur keluarga dan kebutuhan akan pendidikan berkualitas bagi anak-anak kaum ekspatriat Eropa mupun Timur Asing.
Pembangunan ELS pada tahun 1909 merupakan respons langsung terhadap lonjakan populasi Eropa di Sabang seiring dengan pesatnya pertumbuhan pelabuhan. Para insinyur, manajer pelabuhan, perwira militer, dan dokter yang didatangkan ke pulau ini saat itu membawa serta keluarga mereka. Bagi kelompok elite ini, menyekolahkan anak di sekolah bumiputera (Inlandsche School) adalah hal yang mustahil, baik karena alasan standar kurikulum maupun gengsi rasial. Mereka menuntut fasilitas pendidikan yang setara dengan yang ada di Amsterdam atau Den Haag, sehingga kelak jika mereka kembali ke Eropa atau pindah ke kota besar lain di Jawa, pendidikan anak-anak mereka tidak terputus.
Gedung sekolah ini didirikan di lokasi yang sangat strategis, berbatasan langsung dengan kawasan perumahan elite Sabang Maatschappij. Secara arsitektural, bangunan ini mengadopsi gaya Indische yang fungsional. Ciri khas utamanya terletak pada desain ruang kelas yang luas dengan langit-langit menjulang hingga lebih dari empat meter. Serambi panjang atau selasar yang menghubungkan antar-kelas berfungsi sebagai pelindung dari tampias hujan deras, sekaligus menjadi ruang interaksi sosial bagi para siswa saat jam istirahat.
Sebagai institusi pendidikan Eropa, kurikulum yang diterapkan di ELS Sabang berkiblat sepenuhnya pada sistem pendidikan Belanda. Bahasa pengantar yang digunakan secara mutlak adalah bahasa Belanda. Mata pelajaran meliputi membaca, menulis, berhitung, sejarah nasional Belanda, geografi Eropa, ilmu alam, serta seni musik dan olahraga.. ELS saat itu diproyeksikan sebagai sekolah dasar elit yang mempersiapkan siswanya untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan menengah bergengsi seperti Hogere Burgerschool (HBS) yang biasanya hanya tersedia di kota-kota besar seperti Batavia atau kota besar lainnya di Jawa.
Meskipun menyandang nama “Sekolah Eropa”, ELS Sabang pada praktiknya tidak sepenuhnya tertutup bagi non-Eropa. Seiring dengan penerapan Politik Etis (Ethische Politiek) pada awal abad ke-20 yang menekankan pada edukasi dan kemajuan tanah jajahan, sekolah ini dibuka sedikit bagi anak-anak dari kalangan bangsawan pribumi (priyayi atau Ulee Balang) dan pejabat pemerintah lokal yang memiliki kedudukan setara serta kemampuan finansial yang memadai.
Salah satu bukti historis dari fenomena ini adalah kehadiran Sutan Muhammad Amin Nasution (SM. Amin) yang memiliki nama kecil Krueng Raba Nasution, tokoh pergerakan nasional yang kelak menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara pertama. Ia tercatat pernah menimba ilmu di ELS Sabang sekitar tahun 1912 hingga 1915. Kesempatan ini diperolehnya berkat status pamannya, Sutan Martua Raja, yang menjabat sebagai mantri polisi di Sabang. Selain itu, sekolah ini juga menjadi tempat belajar Wim Latumeten pada periode 1926–1929. Putra dari dr. J.A. Latumeten, psikiater terkemuka yang memimpin Rumah Sakit Jiwa Sabang, ini kelak tumbuh menjadi tokoh olahraga nasional. Kehadiran siswa-siswa terpilih ini menjadikan ELS sebagai tempat bertemunya anak-anak elite kolonial dan elite pribumi.
Tatanan pendidikan yang mapan dan elitis di ELS Sabang terhenti seketika dengan kedatangan balatentara Jepang pada Maret 1942. Segera setelah pendudukan, pemerintah militer Jepang mengeluarkan kebijakan radikal untuk menghapus pengaruh Barat di Asia. Sekolah-sekolah berbahasa Belanda seperti ELS ditutup paksa. Bahasa Belanda, yang sebelumnya merupakan bahasa kaum intelektual dan pengantar ilmu pengetahuan, dilarang keras penggunaannya di ruang publik maupun institusi pendidikan.
Berakhirnya Perang Dunia II dan proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 membuka babak baru bagi sejarah gedung ELS Sabang. Setelah melalui masa transisi revolusi fisik yang penuh gejolak antara tahun 1945 hingga 1949, gedung ini akhirnya sepenuhnya berada di bawah kendali pemerintah Republik Indonesia pasca-penyerahan kedaulatan.
Nasionalisasi sistem pendidikan yang dilakukan pemerintah Indonesia mengubah wajah sekolah ini secara fundamental. Nama elit Europeesche Lagere School yang berbau kolonial dihapus, digantikan dengan nama Sekolah Rakyat (SR), yang kemudian berevolusi menjadi Sekolah Dasar Negeri (SDN). Gedung SDN 2 Sabang menjadi saksi bagaimana transisi ini berlangsung. Guru-guru Belanda yang tersisa digantikan oleh guru-guru Indonesia. Buku-buku pelajaran terbitan Batavia atau Amsterdam digantikan oleh buku-buku terbitan Jakarta yang memuat sejarah perjuangan kemerdekaan.
Hingga hari ini, SDN 2 Sabang masih berdiri tegak di lokasi aslinya di Jalan Untung Suropati. Secara visual, bangunan ini masih mempertahankan banyak elemen aslinya: atap limasan yang lebar, jendela-jendela jangkung, dan selasar yang teduh. Pemerintah Kota Sabang telah menetapkan bangunan ini sebagai Cagar Budaya, sebuah pengakuan bahwa sekolah ini memiliki nilai sejarah yang penting bagi kota.
