Di lereng bukit kawasan Kuta Ateuh, terletak sebuah pemakaman bersejarah yang dikenal sebagai Kerkhof Merbabu. Kerkhof Merbabu berfungsi sebagai arsip demografis yang merekam jejak para individu yang terlibat dalam pembangunan imperium maritim Hindia Belanda. Situs ini menyimpan data epigrafis mengenai asal-usul, profesi, dan penyebab kematian para pendatang Eropa yang menetap atau sekadar singgah di Sabang pada akhir abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Inskripsi pada nisan-nisan yang ada menunjukkan bahwa penghuni pemakaman ini tidak terbatas pada warga negara Belanda semata, melainkan mencakup berbagai kebangsaan, termasuk Jerman, Prancis, Rusia, dan Jepang.
Pendirian Kerkhof Merbabu merupakan bagian dari perencanaan tata ruang kota (stedenbouw) Sabang yang diterapkan oleh pemerintah kolonial dan Sabang Maatschappij. Dalam konsep tata kota kolonial, penyediaan fasilitas pemakaman yang terpisah dan terkelola dengan baik merupakan syarat mutlak bagi sebuah permukiman Eropa (Europeesche wijk).
Struktur tata letak makam di Kerkhof Merbabu mencerminkan stratifikasi sosial yang berlaku pada masyarakat kolonial saat itu. Zonasi pemakaman menunjukkan adanya pengelompokan berdasarkan status sosial, pangkat militer, dan kemampuan ekonomi. Makam-makam milik pejabat tinggi pemerintahan, manajemen senior Sabang Maatschappij, dan keluarga bangsawan ditempatkan pada lokasi-lokasi bagus dengan monumen yang megah. Bahan konstruksi nisan menjadi indikator status ekonomi yang jelas; penggunaan marmer impor dan granit berkualitas tinggi mendominasi makam kalangan elit, sementara makam kelas pekerja atau prajurit menggunakan material yang lebih sederhana seperti batu atau semen cetak.
Selain aspek sosial, Kerkhof Merbabu juga menyediakan data mengenai tingkat kematian dan kondisi epidemiologis masa itu. Banyaknya nisan yang mencatat usia kematian dini, baik pada anak-anak maupun dewasa muda, mengindikasikan tingginya risiko kesehatan di daerah tropis pada awal abad ke-20. Selain itu, fungsi Sabang sebagai pelabuhan transit internasional menyebabkan pemakaman ini juga menerima jenazah penumpang kapal asing yang meninggal dalam pelayaran. Prosedur karantina dan kesehatan pelabuhan mengharuskan jenazah yang meninggal karena penyakit menular segera dimakamkan di pelabuhan terdekat untuk mencegah wabah di atas kapal, menjadikan Kerkhof Merbabu sebagai tempat peristirahatan terakhir bagi banyak pelaut lintas benua.
Peran sejarah Kerkhof Merbabu semakin menonjol ketika ditinjau dari perspektif sejarah militer internasional. Situs ini menyimpan bukti keterlibatan Sabang dalam dinamika konflik global, mulai dari Perang Rusia-Jepang hingga Perang Dunia I dan II. Posisi Sabang sebagai pelabuhan netral yang strategis di pintu masuk Selat Malaka menjadikannya titik persinggahan logistik bagi armada angkatan laut negara-negara yang bertikai, sesuai dengan hukum maritim internasional yang berlaku saat itu.
Salah satu bukti tertua keterlibatan asing adalah makam Letnan Sergey Vasilyevich Khokhlov, seorang perwira Angkatan Laut Kekaisaran Rusia. Berdasarkan data epigrafi, Khokhlov meninggal sekitar tahun 1904–1905, bertepatan dengan mobilisasi besar-besaran armada Rusia menuju Timur Jauh dalam konteks Perang Rusia-Jepang. Makam ini ditandai dengan salib Ortodoks Rusia berbahan logam, yang secara visual sangat kontras dengan nisan gaya Protestan atau Katolik di sekitarnya. Keberadaan makam ini mengonfirmasi bahwa kapal-kapal perang Rusia memanfaatkan fasilitas pelabuhan di Hindia Belanda untuk perbaikan atau pengisian perbekalan dalam perjalanan panjang mereka menuju Pertempuran Tsushima.
Peristiwa militer paling signifikan yang jejaknya terekam di pemakaman ini adalah Pertempuran Penang (Battle of Penang) pada era Perang Dunia I. Pada tanggal 28 Oktober 1914, kapal penjelajah Jerman SMS Emden di bawah komando Kapten Karl von Müller melakukan serangan infiltrasi ke pelabuhan Penang dan berhasil menenggelamkan kapal perusak Prancis, Mousquet. Pasca pertempuran, SMS Emden mengevakuasi 36 awak kapal Prancis yang selamat. Mengikuti konvensi perang laut mengenai perlakuan terhadap tawanan yang terluka, Kapten von Müller memindahkan para pelaut Prancis tersebut ke kapal sipil Inggris SS Newburn dengan instruksi agar mereka dibawa ke pelabuhan netral terdekat untuk mendapatkan perawatan medis. Sabang, dengan fasilitas kesehatannya yang memadai, menjadi tujuan evakuasi tersebut.
Di antara para korban yang dievakuasi, terdapat Enseigne de vaisseau (Letnan Muda) Jacques Carissan, perwira kedua kapal Mousquet. Ia meninggal dunia di Rumah Sakit Sabang tiga hari setelah evakuasi. Jenazahnya dimakamkan di Kerkhof Merbabu dengan penghormatan militer penuh. Makam Carissan dan rekan-rekannya menjadi bukti fisik dari dampak Perang Dunia I di wilayah Asia Tenggara. Situs ini bukan sekadar makam perang biasa, melainkan representasi dari kepatuhan terhadap hukum humaniter internasional di masa perang, di mana pelabuhan netral seperti Sabang memainkan peran krusial dalam penanganan korban tempur dari pihak yang bertikai.
Pasca-kemerdekaan Indonesia dan eksodus warga Belanda, Kerkhof Merbabu mengalami fase degradasi lingkungan yang signifikan. Selama beberapa dekade, situs ini terpinggirkan dari narasi sejarah lokal dan hanya dipandang sebagai bagian sisi kelam kolonialisme.
Namun, paradigma pengelolaan situs ini berubah dalam dua dekade terakhir seiring dengan meningkatnya kesadaran akan nilai sejarah transnasional yang dimilikinya. Munculnya inisiatif “diplomasi memori” (memory diplomacy) mendorong keterlibatan aktif pemerintah negara asing dalam pelestarian makam warga negara mereka. Pemerintah Federasi Rusia dan Republik Prancis telah menunjukkan komitmen diplomatik yang nyata terhadap situs ini. Kunjungan kapal perang Angkatan Laut Rusia, seperti Admiral Panteleyev, yang disertai upacara penghormatan militer di makam Letnan Khokhlov, menandai reaktivasi situs ini sebagai ruang diplomasi pertahanan. Restorasi fisik terhadap makam Khokhlov yang didanai pihak Rusia merupakan bentuk intervensi konservasi yang bertujuan menjaga kesinambungan memori historis hubungan bilateral.
Pemerintah Prancis juga mengambil langkah serupa dengan memberikan perhatian khusus pada makam Jacques Carissan dan pelaut Mousquet. Situs makam ini telah diintegrasikan ke dalam jaringan peringatan perang Prancis di luar negeri. Pada tahun 2021, Duta Besar Prancis meresmikan ruang pameran khusus di Museum Sabang yang didedikasikan untuk mengenang peristiwa Pertempuran Penang dan sosok Jacques Carissan, menciptakan konektivitas naratif antara artefak museum dan situs makam. Kolaborasi internasional ini menghadirkan model pengelolaan cagar budaya yang partisipatif, di mana tanggung jawab pelestarian dibagi antara pemerintah daerah sebagai pemilik teritorial dan negara sahabat sebagai pemilik memori historis.
